Lampu Hijau, Selembar Kertas, dan Impian

LAMPU HIJAU UMIKKU

Lembaran demi lembaran formulir masih tergeletak di meja kerja, kutatap namun tak jua ku sentuh. Kala itu sungguh ragu untuk meneruskan mimpi-mimpi yang sudah terlanjur kukubur dalam-dalam. Ya, siang hari terik di kota yang cukup panas ini aku baca sebuah pengumuman tentang program Bantu Guru Melihat Dunia, yang diselenggarakan oleh PPI Dunia. Program ini akan mengajak guru-guru Indonesia untuk melihat sistem pendidikan di beberapa negara, antara lain: Australia, Jepang, Tiongkok, Malaysia, dan Singapura. Mataku tertuju terhadap dua negara yang selalu ingin kukunjungi sejak dulu yakni Australia dan Jepang. Sayangnya Australia hanya diperuntukkan guru SMP yang mengajar Bahasa Indonesia. Namun masih ada pilihan Negara Jepang yang selama bertahun-tahun ingin kudatangi.

Ah, Sudahlah Ris! Mimpimu terlalu tinggi untuk mu yang hanya seorang guru SD di Pinggir kota Metropolitan. Setelah kubaca dan ku cetak semua persyaratannya, lalu kutinggal begitu saja. Karena mustahil bagiku, selain persyaratan yang lumayan berat yakni harus menyertakan sertifikat TOEFL ITP minimal 500, aku juga masih terkendala restu ibu. http://www.ppidunia.org/bgmd/persyaratan-bgmd/

Ya, Ibu…. seorang yang selama ini menjadi alasan kukorbankan semual hal untuknya. Seperti dulu beliau mengorbankan banyak hal untuk diriku. Kubenamkan mimpi-mimpi ke luar negeri untuknya, untuk menemaninya di masa tua dan di sisa-sisa umurnya. Untuknya kumampu membuang semua dalam hidupku.

“mi, ada program guru ke Jepang!”, beritaku kepadanya yang tengah santai melihat film-film india yang diputar di TV swasta Indonesia.

“kenapa? Pengin ikut? Sudah daftar aja!”, selorohnya

Kaget dan bingung, tidak biasanya ia mengijinkanku untuk pergi jauh darinya. Berkali-kali kukatakan kepadanya kalau aku nanti akan pergi jauh dan cukup lama. Herannya kali ini ia hanya mengatakan,”wes wayahe awakmu ngejar kepengenanmu!” (sudah waktunya kamu mengejar keinginanmu).

“umi ngerestui! Moga-moga ketrima yo!”, tambahnya

Hatiku bergetar serasa ingin menangis pecah. Lalu kutarik selembar kertas kemudian ku tulis semua yang harus kulakukan untuk menggapainya. Ya.. Riski, seorang anak laki-laki biasa yang selalu berusaha untuk menjadi seorang yang tidak biasa. Hal pertama yang harus kuraih adalah mendapat sertifikat toefl itp minimal skor 500.

MENGEJAR SELEMBAR SERTIFIKAT

Masih bingung harus memulai dari mana, ku hidupkan mesin motor tuaku yang menemaniku hampir 10 tahun ini. Ku kendarai menuju sebuah toko buku yang cukup besar di kota pahlawan ini. Kuambil beberaa lembar rupiah dari tabunganku untuk membeli dua buku sangat tebal tentang persiapan tes TOEFL.

Berhari-hari kubaca dan kusiapkan beberapa jam khusus untuk mempelajarinya, namun tak jua ku memahami bagaimana cara menaklukkan soal-soal tes ini. Beberapa kali simulasi, aku gagal mendapatkan target yang kutuliskan yakni 550. Disela keterputusasaanku, ku raih handphoneku, kuhubungi beberapa adik-adikku yang baru pulang dr beasiswa luar negeri untuk mengajariku bagaimana mengerjakan tes ini. Alhamdulilah dua orang adikku menyanggupi untuk menemaniku belajar.

Gadis mungil yang akan ke Australia mengajakku bertemu dan memberiku les privat singkat bagaiaman mengerjakan soal pilihan ganda yang sedemikian banyaknya. Adikku Nimas Mega Purnamasari yang begitu telatennya memberiku input ketika aku salah mengerjakan soal-soal itu. Lalu di hari berikutnya aku mendapatkan pendampingan dari adikku yang juga menjadi seorang dosen muda di UNAIR dan baru kembali dari Edinburgh, Agie Sogiono, ia menemaniku dan memberiku beberapa trik-trik mudah menaklukkan tes ini.

Hari yang semakin dekat dengan deadline pendaftaran BGMD PPI Dunia, kuputuskan untuk mendaftar Tes TOEFL ITP yang lumayan mahal yakni Rp 450.000,- di pusat bahasa alamamterku Universitas Negeri Surabaya. Namun kucoba simulasi lagi dan aku gagal lagi. Maka kuputuskan sembari menunggu jadwal tes ku aku mengambil kursus intensif di sebuah lembaga bahasa di Kota Surabaya. Lagi-lagi kuambil tabunganku untuk hal ini. Ah…jerbasuki mawa bea.. menurutku. Tak apalah.. setidaknya saya berusaha maksimal untuk apa yang aku impikan.

Setelah beberapa persiapan yang menurutku cukup matang, tibalah diriku di saat tes TOEFL ITP berlangusng, di kelas itu hanya ada 15 orang yang sudah mulai pucat wajahnya karena menunggu tes dimulai. Aku berada dibaris paling belakang, tepat dibawah AC yang sangat dingin. Ah… keadaan yang sempurna untuk membekukan semua pikiran dan hatiku yang dag dig dug duer.

…….TES TOEFL ITP berlangsung……..

Sudah diprediksi saat tes selesai ke 15 orang tersebut menghela napas panjang, begitu juga denganku. Rasanya antara yakin dan tidak, namun kita saling menguatkan, ya sudahlah..yang terjadi terjadilah…

Tepat dua minggu, aku menenanti hasil tesku. Dan aku sudah kehabisan dana dan tidak akan mungkin mencoba tes lagi. Dalam hati, jika memang tidak sesuai dengan target maka memang program BGMD ini bukan untukku. Ku kendarai sepada tuaku, kumasuki ruang yang begitu dingin sembari menuju resepsionis dan mengatakan:

“mba, mau ambil sertifikat tes toefl itp atas nama Riski”, tanyaku gemetar

“ ini mas”, mbak berjilbab menyodoriku map putih

Kubuka perlahan map putihku dan aku hanya bisa terdiam dan menangis. Tertulis skor TOEFL ITP ku adalah 550 (Listening 55, Structure 52, reading 58), persis seperti yang aku tuliskan di tembok kamarku. ALLAH memberi apa yang aku tuliskan dengan segala cerita dibaliknya. Dan aku sujud syukur, kubawa selembar sertifikat ini dengan rasa syukur tak terhingga.

 

MENJEMPUT IMPIAN

Tinggal beberapa hari tersisa, ku rampungkan semua persyaratan yang dibutuhkan, selain formulir, saya harus membuat essai, membuat Rencana PPA (post program Activity), serta membuat video. Semua kurampungkan dan kuminta beberapa orang teman untuk membaca ulang semua persyaratan juga memberi input terhadap semua adiministrasi yang akan aku submit ke panitia.

Khusus pembuatan video, ku minta bantuan anak-anakku dan seorang temanku untuk berdiskusi tentang konsep pembuatan video. Aku juga sempat melihat beberapa video peserta BGMD lain di youtube. Lalu kuputuskan beberapa konsep yang lain dari pada yang lain. Kemudian eksekusi lalu kusubmit. Link video: https://www.youtube.com/watch?v=JvwmAP19QiM&t=38s  atau klik aja BGMD RISKI.

Dengan ucapan bismillahirrohmanirrohim, kusubmit semua berkas kepada panitia secara daring. Dan Alhamdulilah ku dapat memenuhi semua pesyaratan yang dibutuhkan tepat waktu. http://www.ppidunia.org/bgmd/proses-seleksi-bantu-guru-melihat-dunia/

Nb: (mungkin bagi teman-teman yang mau sharing contoh esai dan rencana PPA yang saya buat monggo drop email di kolom komentar di bawah ini) (note: yang saya buat memang masih jauh dari sempurna namun saling berbagi adalah hal yang sangat menyenangkan)

–Berkah Berkas–

Alhamdulilah setelah beberapa lama menuggu titik terang mulai datang. Sebuah email masuk di notification hpku. Tertulis di subyek pengirim adalah panitian PPI Dunia. AH berdebar rasanya, tapi karena kepasrahan maka wajahku sangat tenang. Alhamdulilah saya termasuk dari 46 peserta dari 2017 aplikan yang lolos ke tahap berikutnya yakni tahap wawancara. Kemudian beberapa email susulan masuk dengan menginfokan teknis wawancara yang akan digunakan. Rasanya senang sekali, namun saya harus cepat move on dari kondisi ini untuk mempersiapkan wawancara yang akan dilaksanakan dalam beberapa hari.

https://www.ppidunia.org/bgmd/pengumuman-seleksi-administrasi/

–Wawancara—

Wawancara ini dilakukan secara daring dengan sistem beberapa interviewer di layar hp dan saya sebagai interview. Terdapat seorang panitia yang menjadi moderator dalam tahap ini yang mengenalkan bahwa interviewer berasal dari beberapa pihak. (dari PPI Dunia dan Kampus Guru Cikal). Saya kurang lebih diwawancari empat orang. Orang pertama lebih menanyakan tentang diri saya serta pengalaman-pengalaman saya ketika menjadi guru, orang kedua dan ketiga lebih mengupas tentang essai dan rencana PPA saya, orang keempat menggali kemampuan berbahasa inggris saya secara lisan.

Pendek cerita, kujalani setiap sesi dengan perasaan enjoy dan nothing to lose. Karena saya meyakini bahwa manusia mempunyai garisnya sendiri-sendiri. Pun waktu wawancara aku menumpang wifi salah satu adikku di PCMI JATIM yakni Edwin. Karena saat wawancara, bebarengan dengan kesibukan menggelar seleksi PPAN Jatim. Jadi, ah sudahlah.. ALLAH knows better than us.

–Pengumuman—

Rasanya masih kubuka berkali-kali email yang masuk pagi itu. Kubaca berulang kali, dan aku masih tidak percaya. Kuyakinkan diri dengan meminta temanku untuk membacanya. Alhamdulilah… Nama pendekku tercantum dalam pengumuman guru yang lolos ke negara tujuan Jepang. Hanya sujud syukur yang dapat kudirikan, dan mencium kedua tangan umikku yang mulai terlihat khawatir karena aku terpilih. Sungguh nikmat Tuhan mana yang Kudustakan.

https://www.ppidunia.org/bgmd/daftar-peserta-lolos-seleksi-wawancara-program-bantu-guru-melihat-dunia-bgmd-2018/

Jepang, negara yang sejak dulu kuimpikan. Semoga dimudahkan.

Saat kumengetik ini, ku tengah mempersiapkan diri dan memantaskan diri lagi untuk menjadi salah satu dari 10 guru yang akan melihat dunia. Semoga dengan dipercayakan diri ini menjadi motivasi untuk lebih berbuat lebih untuk pendidikan negeri ini.

Surabaya, 06 juni 2018 23:27

 

Hamba yang bersyukur

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s